Semesta Sinema

Oleh : BW Purba Negara

Film berbicara dengan menghadirkan serangkaian peristiwa yang berlangsung secara me-ruang dan me-waktu. Gagasan dalam film dikonstruksi dengan cara menghadirkan suatu “dunia” yg terbingkai; bingkai ruang dan bingkai waktu. Dua entitas inilah yang menjadi dasar dari segala bahasa film.

Pembuatan film adalah aktivitas pembatasan, pemilahan, dan pengaturan sudut pandang manusia atas suatu peristiwa yang kesemuanya ini bertujuan untuk menempatkan mata penonton pada perspektif yang dikonstruksi oleh pembuat film. Dalam konstruksi perspektif ini, setidaknya ada dua konsep penting, yaitu mise en scene dan montages.

a. Mise en scene

Mise en scene berasal dari istilah teater Prancis yang secara harafiah berarti penempatan di dalam panggung. Istilah ini merujuk pada suatu konsepsi bagaimana semua elemen visual ditampilkan, bagaimana suatu realitas visual dibingkai, serta bagaimana sebuah ruang dihadirkan. Dalam dunia film, mise en scene adalah sebuah konsep penataan segala hal yang tampak dalam bingkai gambar (frame). Jika istilah mise en scene ini harus dikatakan dalam bahasa Indonesia, barangkali istilah yang cukup mendekati adalah ‘tata bingkai adegan’.

Unsur mise en scene meliputi segala hal yang berkontribusi dalam penciptaan segala citra atau penampakan di dalam frame, yaitu aktor, set lokasi, properti, kostum, dan teknik perekaman gambar. Adapun teknik perekaman gambar di sini meliputi framming (pembingkaian), angle of view, depth of field, dan pengaturan cahaya. Film adalah suatu medium yang dinamis, maka penempatan segala unsur tersebut juga berkenaan dengan segala perubahan dan pergerakan-pergerakannya, baik pergerakan objek yang direkam maupun pergerakan kamera itu sendiri. Dalam rangka menyampaikan suatu gagasan sinematik, semua elemen tersebut harus diatur dengan susunan, posisi, komposisi, dan pergerakan yang tepat sesuai dengan imaji ruang yang ingin dikonstruksi oleh pembuat film. Segala perubahan dalam salah satu unsur tersebut, maka akan dapat berdampak pada imaji ruang yang berbeda.

b. Montage

Dalam istilah film, satuan hasil rekaman gambar biasa kita sebut dengan istilah shot. Secara lebih jelasnya, shot merupakan rekaman gambar utuh yang tidak terinterupsi oleh potongan gambar. Susunan antara shot yang satu dengan shot yang lain akan melahirkan suatu konstruksi gagasan tertentu. Konsepsi susunan ini biasa kita sebut dengan istilah montage.
Dalam dunia nyata, waktu yang dialami oleh manusia berlangsung dalam satu kontinuitas yang utuh. Berbeda dengan itu, waktu dalam film adalah waktu yang terpenggal-penggal. Inilah yang kita sebut sebagai waktu sinematik. Dalam konteks ini prinsip montages diperlukan untuk mengkonstitusi penggalan-penggalan waktu menjadi suatu bentuk yang memiliki keutuhan

Dari paparan di atas, secara lebih singkat dapat kita katakan bahwa montages adalah manifestasi dari konsep waktu, sedangkan mise en scene adalah manifestasi dari konsep ruang. Dengan dua hal ini film bisa menggiring penonton pada suatu persepsi waktu dan persepsi ruang, sehingga pada akhirnya film tidak sekedar menampilkan gambar untuk dilihat dan suara untuk didengar semata. Lebih dari itu, melalui kesemua unsur tersebut, film menghadirkan peristiwa untuk dialami penontonnya.

Sebagai sebuah peristiwa konstruktif, logika ruang dan logika waktu yang dihadirkan di dalam film memiliki karakteristik khas. Agar pembuat film bisa berkomunikasi dengan penonton, maka segala gagasan yang ingin disampaikan harus terlebih dahulu ditransformasikan ke dalam logika ini.

Dipresentasikan oleh BW Purba Negara
sebagai pengantar diskusi sinema Jumat (simamat#2)
Limaenam Films, 7 Februari 2014