Struktur Bahasa Sinematik dalam Perspektif Linguistik

Pikiran manusia bukanlah entitas tanpa struktur. Pikiran itu memiliki struktur, dan struktur pikiran tersebut terartikulasi dalam tata bahasa. Pengkomunikasian pikiran hanya mungkin dilakukan oleh yang memahami sistem tata bahasa. Hanya dengan sistem semacam inilah, pengkomunikasian pikiran menjadi mungkin.

Sebagai sebuah medium tutur, sinema juga memuat suatu sistem tata bahasa. Untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa sinema, kita harus tahu struktur pikiran. Dalam upaya tersebut, teori-teori lingusitik dapat kita pinjam. Jauh sebelum ditemukannya film, ilmu linguisitik telah lebih dulu mengkaji secara sitematis kaitan antara bahasa dengan struktur pikiran manusia.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat pebedaan eksistensial antara bahasa tutur/tulis dengan bahasa film. Oleh karenanya peminjaman teori lingusitik dalam konteks ini hanya dapat dilakukan dalam ranah stuktur. Kita sama tahu bahwa wujud materi ungkap antara kedua bahasa ini berbeda. Sebagai sebuah bahasa, film memiliki perbedaan dengan bahasa tutur/tulis. Film berbicara dengan serangkaian gambar dan suara, sedangkan bahasa tutur/tulis menggunakan rangkaian kata-kata. Perbedaan eksistensial antara keduanya sangat jelas. Kita tidak akan membahas perbedaannya, tetapi yang akan kita bahas adalah keserupaan struktur pikirannya.

Dalam upaya ini kita perlu membedah hubungan antara elemen-elemen bahasa (sintaksis) serta produksi makna yang dilahirkan dari perpaduan antara elemen-elemen bahasa tersebut (semantik). Relasi sintaksis dalam sinema bisa kita lihat dalam keterhubungan antara unsur-unsur dalam mise en scene, tampak pula dalam kaitan antar shot dalam suatu susunan montage, serta tampak pula dalam kaitannya dengan aspek audio. Aspek semantik dalam bahasa sinema bisa kita tinjau dengan melihat kaitan antara suatu peristiwa sinematik dengan konsep yang diacu olehnya. Dalam upaya lebih lanjut untuk mengenali struktur bahasa film, penting kiranya untuk menelaah sejumlah terminologi linguistik yang berkaitan dengan relasi-relasi dalam bahasa, diantaranya relasi penanda-petanda, relasi sintagmatik-paradigmatik, dan relasi denotasi-konotasi.

Dalam aktivitas berpikir, kita seringkali mengkaitkan antara satu hal dengan hal yang lain dalam berbagai pola, diantaranya analogi dan komparasi. Dalam ujaran bahasa, pola semacam ini termanifestasi dalam majas, yaitu ketika kita mengatakan satu hal dalam rangka memaksudkan hal lain. Meskipun yang diacu adalah hal yang lain, tetapi hubungan antara yang dikatakan (penanda) dan yang dimaksudkan (petanda) di sini bukanlah hubungan yang asal-asalan. Ada struktur logika yang mengkonstitusi hubungan itu, diantaranya hubungan analogi dan komparasi. Analogi melahirkan majas perbandingan, sedangkan komparasi melahirkan majas pertentangan. Dari pelajaran bahasa di Sekolah Menengah tentu kita tahu bahwa majas perbandingan dan majas pertentangan ini terwujud dalam banyak varian, diantaranya personofikasi, metafora, asosiasi, alegori, eufimisme, hiperbola, ironi, paradoks, dan lain sebagainya. Dalam bentuk-bentuk majas tersebut, yang ingin kita komunikasikan bukanlah makna literalnya, tetapi pemaknaan tingkat lanjut atasnya.

Logika analogi dan juga komparasi bisa dipakai tidak hanya ketika kita berkomunikasi dalam bahasa tutur/tulis, tetapi bisa diwujudkan juga dalam bahasa sinema. Dengan kata lain, sebenarnya sinema juga mengenal bentuk-bentuk majas. Dalam film Finding Nemo kita bisa melihat contoh personifikasi. Berbagai bentuk exageration dalam animasi jelas merupakan contoh majas hiperbola. Babi Buta Yang Ingin Terbang karya edwin nampak jelas sebagai suatu metafora. Hujan Tak Jadi Datang karya Yosep Anggi Noen tampak menggunakan pola eufimisme. Di samping itu, tentu masih banyak contoh-contoh yang lain.

Tulisan ini merupakan pengantar Diskusi Sinema Jumat (#simamat), Limaenam Films, 21 Februari 2014.
Disampaikan oleh BW Purba Negara.